Mengurangi karbon hitam secara signifikan dapat memperlambat pencairan es kutub - 15 Ags 2010  
email to friend  Kirim halaman ini buat teman    Cetak

Penelitian Profesor Mark Jacobson dari Universitas Stanford yang berbasis di AS telah menemukan karbon hitam, atau jelaga, yang dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar dan biomassa seperti pohon yang ditebang, adalah salah satu faktor yang paling signifikan dalam pencairan es Arktik.

Karena dapat terbawa sejauh ribuan kilometer melalui udara, partikel karbon hitam telah ditemukan mengendap pada gletser dan selubung es kutub dimana warna gelapnya yang menyerap panas mempercepat laju pencairan.

Dalam sebuah penelitian mengenai subjek ini, Profesor Heitor Evangelista dan para kolega dari Universitas Negeri Rio de Janeiro di Brasil menemukan bahwa sekitar 50% karbon hitam di daerah-daerah Antartika yang memanas paling cepat berasal dari pembakaran biomassa di Amazon.

Organisasi pembela lingkungan Greenpeace serta Friends of Earth memperkirakan 80% dari pembabatan hutan di Brasil secara langsung terkait dengan industri peternakan, yang menunjukkan bahwa 40% dari karbon hitam di Antartika berasal dari kegiatan-kegiatan pendukung produksi daging.

Sementara Profesor Jacobson telah menyerukan untuk menurunkan karbon hitam, menegaskan bahwa itu mungkin salah satu pendekatan terbaik untuk secara cepat membantu menghentikan pencairan es. Dia menyatakan, "Kita harus mulai memperhitungkan dampaknya dalam perencanaan upaya mitigasi kita, dan semakin cepat kita mulai membuat perubahan, semakin baik."

Terima kasih, Dr. Jacobson dan Dr. Evangelista serta Greenpeace dan Friends of the Earth, atas wawasan mengenai aspek lain tentang dampak pemanasan global yang mengerikan ini. Mari kita bertindak cepat atas pemahaman baru seperti ini untuk melindungi Bumi dengan paling efektif demi diri kita sendiri dan anak-anak kita.

Dalam upayanya yang prihatin untuk menjaga kesejahteraan planet kita, Maha Guru Ching Hai menyampaikan perlunya untuk menghilangkan bahaya yang demikian gawat ini seperti yang ditimbulkan oleh industri daging dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada Sunday Independent Irlandia edisi 12 Juli 2009.

Maha Guru Ching Hai: Untuk karbon hitam, yang merupakan materi khusus yang dikenal sebagai jelaga, ilmuwan NASA menemukan bahwa ia membawa dampak serius perubahan iklim. Karbon hitam itu menjerat panas 680 kali lebih banyak daripada CO2 – bisa Anda bayangkan itu? Jadi, CO2 itu bukanlah masalah yang paling utama dan mendesak. Jelaga yang 680 kali lebih menjerat panas daripada CO2 mempercepat mencairnya es Antartika, yang menaikkan permukaan laut dunia.

Ilmuwan menemukan bahwa 60% partikel karbon hitam di Antartika terbawa ke sana oleh angin dari hutan-hutan Amerika Selatan yang dibakar untuk pembukaan lahan demi memproduksi ternak. Anda melihat hubungannya?

Jadi, zat pencemar ini adalah hal lain yang merusak dari industri daging. Kita akan menghancurkan dunia ini jika kita tidak berhenti makan dan memproduksi daging dan produk hewani lainnya. Jadi, pola makan vegan organik adalah solusi paling cepat, paling mudah, dan paling efektif untuk planet yang memberi kehidupan ini.

http://www.ottawacitizen.com/technology/Soot+second+leading+cause+climate+change+study/3349011
/story.html?cid=megadrop_story#ixzz0vekfEf8s
http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=cutting-soot-emissions-may-slow-climate-change-in-the-
arctic